Ngantor dan Berbisnis

Photobucket

2.27.2009

Think Local, Buy Local and Be Local

Buy Nothing Day adalah hari peringatan internasional yang diusung para aktivis sosial sebagai protes terhadap kehidupan konsumerisme. Dicetuskan oleh artis asal Vancouver, Ted Dave di Kanada. Tapi kalau di AS, Buy Nothing Day dilakukan sehari setelah Thanksgiving Day yang dikenal sebagai the Black Friday.

Aksi tidak berbelanja sehari ini diawali di Kanada dan kini mulai meluas ke 65 negara di seluruh dunia. Aturannya adalah Think Local, Buy Local and Be Local. Kira-kira kalo' dicocokken dengan primbon simbah adalah cintai negeri sendiri, beli produk bikinan anak negeri dan jadilah anak bangsa yang bangga dengan jati dirinya.

Beberapa waktu lalu Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, yang mengimbau PNS pake sepatu bikinan lokal (@ cibaduyut ...gitu loh..heuheuheu) rasa-rasanya cocok banget dengan ide ini. Maksudnya kalau kita-kita cinta banget dengan segala macam barang asli lokal akan mengurangi "capital flight". Bayarnya ngga perlu pake $$$, cukup pake rupiah saja.

Lagian buat yg alergi belanja ke pasar tradisional yg identik dengan bau, becek dan sumpek rasa-rasanya kudu mulai dibiasaken. Buat emak-emak seperti diriku yg jumpalitan mencukup-cukupkan gaji sebulan belanja ke pasar tradisional ada asyiknya juga. Pokoke bisa dapet lebih murah dan super hemat ketimbang di mall-mall yg semakin bertebaran sampe ke pelosok daerah. .

Disaat resesi ekonomi mendunia dan mulai terasa dampaknya di dalam negeri sepertinya ide ini bisa menjadi pertimbangan semua kalangan. Dengan membatasi diri untuk komitmen terhadap ide Think Local, Buy Local and Be Local rasa-rasanya ga jelek-jelek amat.
Hanya saja bagi sebagian orang mungkin ada yang berpikir kenapa ga Think Global, Buy Local and Be Global....

Jadi apa yang sedang dipikirkan sekarang? Lebih baik membeli barang impor dengan kartu kredit ataukah membeli barang serupa meskipun bikinan lokal yang suka dibilang orang produk KW 2 atau KW3. Yah hari gini masih mau jaga gengsi buuuu... cape deh
Gimana setuju ngga ke pasar tradisional dan cintai produksi Indonesia?

13 komentar:

  1. procibaduyut......Oye. be international quality

    BalasHapus
  2. @ Bang Ir : Cibaduyut atuh Bang ...dari dulu juga tetap setia ..dari jaman sepatu Nurelah yg gede banget

    BalasHapus
  3. heheheheh.... aku cinta indonesia....

    BalasHapus
  4. hidup becek, sumpek dan was was hidup pasar tradisional

    BalasHapus
  5. hidup produk lokal..kiat tersebut semakin membuat kita cinta produk dalam negeri, tetapi memang sepertinya harus diimbangi dengan kebijakan pemerintah agar menaikkan pajak untuk barang impor-an, bisa ditebak produk tersebut akan menjadi lebih mahal dipasar, dengan begitu diharapkan masyarakan mau tidak mau karena alasan barang import lebih mahal akan cenderung memilih produk dalam negeri.

    sementara disisi lain, semakin memberi semangat dan motivasi bagi pengusaha dalam negeri untuk semakin memperbaiki kualitas produksinya.

    Biasanya yang membuat pengusaha kita minder, terutama medium dan small enterprise dalam persaingan pasar, biasanya terbentur masalah harga, jika kita melihat dua item yang satu lokal dan satu import dengan harga sama, tentu kita akan memilih yang import..wajar..tetapi dengan kebijakan menaikkan pajak barang import maka harga juga menjadi bersaing.

    nice post bunda..met malam..

    BalasHapus
  6. memang, mari kita lakukan seperti itu, saya juga berpikiran sama, beli ke pasar barang segar dan harganya juga lebih waras...

    BalasHapus
  7. makasih bun, dah ngasih semangat buat saya. gadis rantau datang mau ngajak bunda jalan jalan kepasar nih, nyari sesuatu yang segar segar,he..he...

    BalasHapus
  8. Bingung Bunda, aq musti koment apa nih...

    BalasHapus
  9. Saya...mending beli dipasar aja bunda ....nyari yang bermutu dan segar ....pake rupiah he..he..he...cinta produk dalam negeri dong...pokok nya yang berkualitas

    BalasHapus
  10. @ subagya : penghasilan dari $$ tapi belanja tetep rupiah gitu ya chal ..

    @ senoaji : hehe gitu dah, tapi saya menikmatinya kok mas. belanja di pasar tradisional lebih semarak

    @ mama hilda : iya betul makanya perlu terus dilakukan pelatihan2 utk para perajin termasuk bagaimana kiat2 membuat produk unggulan yg bisa masuk pasar dunia dan tidak kalah bersaing dengan produk negara lain termasuk tutorial agar produk2nya lolos uji mutu standard internasional yg ramah lingkungan, dlsb
    thanks for sharing mama yg cantik

    @ suryaden : betul bang .. keberpihakan terhadap produk lokal harus kita lakukan tanpa perlu ada SK dari institusi atau lembaga pemerintah, tapi harus bangkit dari kesadaran sebagai bangsa yg cinta pada negeri ini

    @ Kristina Dian Safitry : tetap semangat ya sayang, doa bunda selalu menyertai. belanja ke pasar tradisional di HK tetep pake $$ ya say..heuheuheu

    @ Kisi Kehidupanku : wa'alaikum salam wr wb

    @ Riosisemut : bingung??...pegangan dulu aja eh nemplok aja dulu di daon ....

    @ Baka Kelana : siip bang Baka

    BalasHapus
  11. kalo pasar tradisionalnya bersih gak becek, gak jorok mungkin lebih bagus lagi :)

    BalasHapus
  12. @ Lyla : makanya Pemda harus didorong tuh untuk memperhatikan kebersihan pasar tradisional.. ya mbak.

    BalasHapus

sobat Bunda semua, terimakasih sudah bersedia meninggalkan komentar. Mau nyampein kritik juga boleh... Monggo tak perlu ragu-ragu.
Jika ada kekeliruan, mohon dimaafkan yaaa