Ngantor dan Berbisnis

Photobucket

10.29.2008

Belajar Mendengar

Hari ini ada hal yang menjadi pelajaran berharga untuk diri ini. Adakalanya kita kurang mampu berempati dengan teman, bahkan sahabat sekalipun. Maklum, tak selalu kita dalam keadaan "fresh" atau "fit". Apalagi jika menyangkut hal-hal yang sifatnya amat personal.
Rekan sejawat "curhat" tentang sesuatu hal yang saya sendiri tak menguasai persoalan. Alhasil saya tak lebih hanya menjadi "tempolong" atau hanya menampung apa yang menjadi keluhannya. Di satu sisi saya ingin menolong dengan memberi saran yang positif. Namun ada keraguan dalam diri "ah saya kurang canggih dalam hal yang dia keluhkan..minimal dengan saya menjadi pendengar yang baik pun mestinya sudah membuat dia lega hati dan tidak bete lagi". Bukan sekali ini saja saya mengalami ini. Anak saat bicara pada mama dan papanya, mestinya dengan senang hati mama dan papa mau mendengar celoteh si kecil. Namun seringkali demi alasan letih baru pulang kerja dengan mudah mulut berujar : "sana..sana...ah...mama cape nih baru pulang kerja...nanti aja ya sayang.." "Jangan gitu dong...papa capek nih baru pulang kerja..tuh sama mbok sana.."
Seperti itukah kita? Dalam keseharian banyak melihat di tayangan teve atau menyaksikan sendiri di sekeliling kita. Bahwa menjadi pendengar yang baik itu amat sulit untuk dilakukan. Banyak orang lebih suka banyak bicara dan bicara dan ingin didengar. Namun saat diminta untuk mendengar, jauh lebih sulit lho ketimbang disuruh bicara. Terutama jika menyangkut hal yang sifatnya personal atau atas nama "harga diri", atas nama cape baru pulang kantor. Hemh..
Karena itu renungan saya hari ini adalah sudah mampukah saya menjadi pendengar yang baik. Benarkah saya menjadi manusia yang hanya "pintar bicara" namun tak mau mendengar kata-kata. Saya cemas dan takut jangan-jangan saya sudah tak suka lagi menjadi pendengar yang baik dan bijak, lalu lama kelamaan berubah menjadi orang yang "bebal" ...Audzubillah.
Setiap diri kita adalah pemimpin, minimal memimpin jiwanya sendiri-sendiri, jika tak ingin, jengah, tidak cukup PD atau masih malu disebut sebagai pemimpin bagi orang lain. Saat menjadi pemimpin...alangkah bebalnya jika menjadi pemimpin yang hanya mau bicara dan bicara untuk didengar orang, menarik simpati orang agar dipilih namun setelah terpilih menjadi pemimpin jadi lupa diri. lupa pada amanah dan tak mendengar suara orang kecil, keluhan, jeritan, permohonan..atau apapun namanya itu.
Saya pun bertanya pada teman saya itu...syukurlah setelah agak lama terdiam sambil melewatkan jam makan siang dia pun berujar "makasih mbak...minimal udah ada orang yang mau dengerin omongan saya. Duh...mak nyesss..rasanya sejuk saat mendengar kata-katanya. Setidaknya hari ini temanku itu sudah bisa tersenyum lagi.
Alhamdulillah...terimakasih ya Allah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sobat Bunda semua, terimakasih sudah bersedia meninggalkan komentar. Mau nyampein kritik juga boleh... Monggo tak perlu ragu-ragu.
Jika ada kekeliruan, mohon dimaafkan yaaa