Ngantor dan Berbisnis

Photobucket

11.01.2008

Ibuku Seorang Pembelajar

Acara yang dipandu Neno Warisman, di penghujung Oktober, Untukmu Ibu Indonesia, di TVRI, amat membuat saya terperangah. Betapa tidak. Seorang ibu begitu banyak memberikan inspirasi bagi anak-anaknya dengan cara selalu menjadi seorang pembelajar. Tak lekang oleh waktu, seolah demikian jiwa ibu Ruhaeni Waksito, 82 tahun, yang sudah dikarunia 11 anak, 35 cucu dan 15 cicit. Dengan antusias Nini Eni, begitu ia disapa mbak Neno malam itu, menceritakan dengan runut bagaimana ia menjalani keseharian sebagai seorang pembelajar
Komentar dari Ustadzah Ida juga amat menggugah hati saya, bahwa memang demikianlah hendaknya peran seorang ibu. Ibu sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya, mampu memberikan keteladanan dengan berbuat , dengan contoh, dan bukan hanya sekadar berkata-kata.
Alangkah indahnya jika semua ibu mampu menjadi manusia pembelajar bagi dirinya masing-masing. Selalu mencari aktualisasi diri, tidak mudah puas dengan apa yang sudah dipelajari. Dengan begitu bisa menularkan semangat belajar buat generasi yang akan datang.
Begitu spontan nini Eni mengatakan "always happy in my heart" saat ditanya apa resepnya menjalani tugas sebagai seorang ibu. Duuuh....sungguh luar biasa, apa yang dituturkannya. Bahkan salah seorang putranya, Oki, yang lulusan dari Wollongong University, Australia mengatakan betapa ibu selalu menjadi inspirasi dan penyemangat dalam melakukan yang terbaik dalam hidup. Wah...luar biasa...
Bisa dibayangkan ga sih indahnya jika suatu saat kita sebagai ibu juga bisa mendengar anak-anak kita mengatakan seperti yang diungkapkan putra nini Eni. Bahkan cucu dari putra bungsunya kemudian membacakan puisi yang tak kalah indahnya untuk sang nenek tercinta.
Intinya menjadi Manusia Pembelajar. Mencari ilmu sejak dalam buaian sampai menuju liang lahat. Begitulah hendaknya kita semua, dengan niat bahwa ilmu yang kita pelajari membawa manfaat baik untuk diri maupun untuk kemaslahatan orang banyak. Dan yang penting untuk juga menjadi bekal saat kita kembali kepadanya.
Seperti yang dibacakan dalam puisi nini Eni...betapa Allah sudah memberikan banyak kenikmatan untuknya sehingga dalam akhir hidup ingin mempersembahkan yang terbaik pula untukNya.
Saya jadi bertanya-tanya ke diri sendiri dan merenungkan makna mendalam dari puisi nini Eni. Sudahkah saya menjadi manusia pembelajar. Sudahkah anak-anaku mendapat contoh keteladanan dariku sebagai ibu mereka.
Postingan saya beberapa waktu lalu yang dikomentari Kang Subagya dan Dee ("...makasih yaa dengan komentar dari Anda berdua...")sungguh membuat saya bahagia...karena apa yang saya tuliskan pada postingan itu akhirnya menjadi sebuah kekuatan baru dalam diri terlebih setelah menyaksikan tayangan yang mengetengahkan sosok nyata seorang nini Eni dalam usia yang sudah tak lagi terbilang muda namun semangatnya sungguh amat patut diteladani. Terimakasih ya Allah....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sobat Bunda semua, terimakasih sudah bersedia meninggalkan komentar. Mau nyampein kritik juga boleh... Monggo tak perlu ragu-ragu.
Jika ada kekeliruan, mohon dimaafkan yaaa