Ngantor dan Berbisnis

Photobucket

11.01.2008

Pengaruh Cerita Terhadap Masa Depan Kehidupan

Salah satu cara yang efektif mempengaruhi jiwa anak adalah cerita. Semakin kuat sebuah cerita, semakin besar pengaruh yang menggerakkan jiwa anak. Demikian pula semakin dini mereka membaca cerita-cerita berpengaruh tersebut, semakin kuat bekasnya pada jiwa. Kuatnya pengaruh ini akan lebih besar lagi jika anak-anak itu meng­ungkapkan kembali cerita dan kesan yang ia tangkap melalui tulisan. ‘Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
Itu sebabnya, dua keterampilan ini –yakni membaca dan menulis-- perlu kita bangkitkan sejak usia dini. Kita gerakkan jiwa mereka untuk membaca semenjak anak-anak itu baru berusia beberapa hari. Kita rangsang minat baca mereka, dan kita ajarkan mereka bagaimana membaca semenjak dini, bukan semata untuk meningkatkan kecerdasan. Lebih dari itu, mudah-mudahan kita tergerak untuk melakukannya karena Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan membaca (iqra’) sebagai perintah pertama. Iqra’ bismirab­bikal ladzii khalaq! Adapun kenyataan bahwa mengajarkan membaca sejak dini terbukti meningkatkan kecerdasan anak kita berlipat-lipat, itu merupakan hikmah yang kita syukuri. Bapak Muhammad Fauzil Adhim begitu jelas memaparkan tulisannya ini sebagai kolumis Parenting di Hidayatullah.
Kebiasaan membacakan dongeng untuk anak-anak sebelum tidur hendaknya menjadi kebiasaan yang mesti dipupuk. Hanya saja kita sebagai orangtua mestinya cukup kritis dalam memilihkan buku-buku untuk anak-anak. Cerita kepahlawanan para sahabat Rasul, Cerita para Nabi dan semua yang memberikan pesan moral mestinya porsinya lebih banyak diberikan kepada anak-anak kita.
Teringat semasa kecil saya dulu, ayah nyaris setiap minggu membelikan saya buku bacaan. Saat masih kelas 3 SD saya sudah membaca karya Hector Malot "Sendiri di Dunia", juga buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karya Buya Hamka. Saya juga menjadi anggota perpustakaan Daerah di Manokwari saat masih kelas 4 SD sampai saya SMP, dan getol banget meminjam buku di sana. Berlangganan majalah Kuntjung, membaca cerita-cerita di padang tundra kawasan NTB-nya Pak Gerson Poyk atau cerita yang renyah mengalir dari ibu Anna M Massie juga tulisan Pak Sukanto masih amat membekas.
Memang sudah selayaknya pemerintah menyediakan buku-buku full gizi untuk anak-anak yang bermuatan moral namun tidak menggurui. Buku yang membangun semangat. Apalagi jika disediakan perpustakaan atau Rumah Baca dimana-mana. Mustahil kalau buku harus dibeli semua. mahal dan tak terjangkau oleh keluarga kelas menengah bawah. Mestinya Mobil Pintar semakin banyak disediakan sampai ke pelosok, agar buku bacaan bermutu alias full gizi bisa dibaca secara meluas oleh anak-anak kita.
Semangat "Iqra" dan belajar terus tanpa mengenal lelah adalah kunci untuk masa depan kehidupan anak-anak kita nantinya.
Sebagaimana pesan 'Ali bin Abi Thalib bahwa ilmu harus ditulis. Karena itu budaya literacy memang harus terus dikembangkan. bukan hanya sekadar mendengar dongeng nina bobo namun budaya menulis...menulis dan menulis.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sobat Bunda semua, terimakasih sudah bersedia meninggalkan komentar. Mau nyampein kritik juga boleh... Monggo tak perlu ragu-ragu.
Jika ada kekeliruan, mohon dimaafkan yaaa