Ngantor dan Berbisnis

Photobucket

11.02.2008

TANPA KEMAUAN KUAT MENGUBAH DIRI, TAK ADA YANG BERUBAH

“Sungguh, telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan” (QS At Tiin : 4)

Sekadar menjalankan pekerjaan tidaklah terlalu sulit. Hampir semua orang bisa melakukannya. Namun menjadi pribadi yang ideal penuh percaya diri, enerjik, wah ini tidak semua orang bisa melakukannya. Jika dikaitkan dengan agama Islam, apa yang disebut dengan konsep motivasi diri dapat diartikan sebagai konsekuensi hidup kita di dunia sebagai insan ciptaan Allah.
Bukankah setiap diri memiliki tugas “….sebagai khalifah Allah di muka bumi ( Al Baqarah : 30).
Konsekuensi menjadi wakil Allah di muka bumi membawa kita mendapat amanah berbuat sesuatu yang bernilai positif baik untuk diri pribadi maupun untuk sekeliling kita. Sekarang bagaimana mungkin kita bisa memotivasi orang lain jika kita sendiri tak mampu memotivasi diri.
Jika motivasi diri adalah bagian dari konsekuensi hidup maka sudah selayaknya setiap diri kita memiliki etos kerja yang baik, harus sistematis dalam bekerja, memiliki manajemen waktu, enerjik dan selalu menumbuhkan sikap optimis, tidak mudah menyerah.
Apa kendala yang menghambat kemampuan memotivasi diri? Jika Anda suka berkeluh kesah, itulah yang bisa menjadi penghambat. Maklum sifat ini juga diberikan Allah kepada kita sebagaimana dalam firmannya : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir” (Al Ma’arij : 19)
Karena itu jika kita pernah merasa resah karena selalu gagal, harap ingat firman Allah tersebut. Bukan apa-apa, tak lain agar kita selalu ingat bahwa memang kita memiliki keterbatasan. Tidak selalu upaya atau ikhtiar yang kita lakukan berujung kesuksesan atau sebaliknya tak selalu semua yang kita upayakan akan berakhir dengan kegagalan. Disinilah perlunya motivasi diri dan kekuatan iman yang saling bersinergi untuk membuat kita kuat menjalani hidup.
Lalu apa sih motivasi diri itu ?
Motivasi diri adalah mempunyai cita-cita yang berasal dari dalam diri pribadi untuk menggerakkan segala daya agar berhasil mencapai kemenangan atau kesuksesan.
Karena bukankah kita sudah menjadi mahluk yang paling terhormat dari seluruh ciptaanNya. Lantas apalagi yang menghambat untuk mewujudkan segala cita-cita?
Dalam memotivasi diri, jangan pernah takut untuk punya cita-cita besar, berpikirlah maju karena kita tidak diciptakan Allah untuk menjadi seorang “the looser” alias pecundang. Setiap langkah kita harus menjadi sebuah kemenangan. Bukankah Allah selalu berada bersama kita. Bahkan lebih dekat dengan urat leher kita. Jadi mengapa mesti takut untuk bercita-cita besar?
Kalaupun kita pernah jatuh dan terpuruk, bukan menjadi alasan untuk tidak mau bangkit lagi lantas berputus asa. Kalau ada kekeliruan saat melakukan usaha yang kemudian gagal dan bangkrut, bukankah masih ada kesempatan bagi Anda untuk mempelajari dimana kesalahannya. Berarti Allah masih memberi kesempatan Anda untuk mencari dan mempelajari ilmu lain yang mungkin belum diketahui.
Menjadi seorang yang mampu bertahan (survivor) akan mampu memotivasi diri dengan cara memelihara hubungan emosi (EQ) kepada lingkungan di manapun dia berada. Baik di lingkungan keluarga, lingkungan sosial maupun di lingkungan kerja. Artinya kesadaran emosi (EQ) akan mempengaruhi sukses pribadi maupun kesuksesan lingkungan sosial kita. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang Motivator,Kang Reza Syarief, dalam arahannya yang disebut Life Excellence bahwa seseorang baru bisa dikatakan sukses jika dia juga mampu membuat kesuksesan orang-orang di sekelilingnya. Subhanallah.
Dengan kekuatan pikiran, rasa percaya diri yang tinggi, keterampilan, memelihara EQ dengan lingkungan dan memelihara iman, percayalah Anda akan menjadi pribadi yang tangguh. Dunia ini merupakan aset, amanah sekaligus ujian dan tantangan bagi setiap mukmin untuk membuktikan kualitas dirinya. Jadi jangan sia-siakan karunia yang diberikanNya. Kurang Pede? Seorang survivor tak akan berhenti berupaya dan memupuk kekuatan dan motivasi agar mampu membuktikan diri karena Anda pada akhirnya berhasil sukses dan layak menyandang gelar sebagai “khalifah” yang rahmatan lil alamin…
(ysm/sumber : reza syarif-ary ginanjar-ESQ)

2 komentar:

  1. assalamualaikum...
    terimakasih sdh mengunjungi blogku...setuju sekali.. jangan mudahmenyerah dengan nasib... perubahan di awali dr diri kita sendiri, dan diri kitalah penentu perubahan... happy blogging...

    BalasHapus
  2. yup, bener sadarilah perubahan itu awalnya dari diri kita ya...

    salam kenal

    BalasHapus

sobat Bunda semua, terimakasih sudah bersedia meninggalkan komentar. Mau nyampein kritik juga boleh... Monggo tak perlu ragu-ragu.
Jika ada kekeliruan, mohon dimaafkan yaaa